PELAJARAN AKAN FILOSOFI HIDUP DARI PENDAKIAN GUNUNG MERBABU

Posted: June 16, 2013 in Backpacker

Awal Bulan Juni 2013 ini menjadi sebuah awal bulan yang sangat istimewa bagi saya. Di tanggal 1 Juni 2013 tersebut saya mewujudkan salah satu mimpi saya yang saat ini sudah terwujud yaitu bisa mendaki gunung. Baiklah, mungkin mendaki gunung bagi seseorang adalah sebuah hal biasa dan bukanlah merupakan hal besar, namun bagi saya mendaki gunung adalah sebuah impian sekaligus sebuah pengharapan besar. Sebuah impian bagi saya untuk menikmati perjalanan pendakian, menikmati keindangan puncak sebuah gunung, dan menikmati keindahan permadani awan yang luas terbentang tak terbatas. Sebuah pengharapan besar bagi saya untuk dapat menikmati hikmah dari setiap langkah kaki yang saya gerakan, menemukan sebuah arti kehidupan dan arah sebuah perjalanan hidup,dan membuat sebuah ringkasan sebuah perjalanan yang indah dan takan terlupakan.

Waktu ini, waktu ketika saya bisa melakukan pendakian sebuah gunung adalah waktu-waktu yang saya tunggu-tunggu selama ini. Sebelumnya, saya hanya mendengar cerita keindahan dan cerita perjalanan pendakian dari tetangga ataupun teman-teman kampus lainnya. Pada saat itu, saya tidak bergabung dengan teman-teman kampus pecinta alam. Namun disetiap cerita mereka saya mendengarkan cerita mereka dengan penuh antusias dan pengharapan semoga suatu saat bisa melakukan pendakian gunung.

Tibalah sekitar 1 minggu sebelum tanggal pendakian, saya diajak oleh seorang teman kantor saya Mas Taufik Kurohman untuk bergabung mengikuti pendakian. Semula saya tertegun, apakah saya bisa untuk melakukan hal ini, karena Gunung yang akan saya daki adalah Gunung Merbabu, sebuah gunung besar dengan tingkat medan yang sangat menantang, namun pada saat itu pula saya mengiyakan untuk mengikuti perjalanan tersebut dengan melihat bahwa ini adalah sebuah impian saya dan pengharapan mendapatkan berbagai hikmah sebuah kehidupan.

Keberangkatan saya menuju Gunung Merbabu adalah bukan sebuah perjalanan main-main, saya harus membulatkan tekad saya dan semangat yang luar biasa agar saya bisa menuju puncak. Saya memastikan bahwa saya sangat antusias menjalankan kegiatan ini. Alhamdulillah, semua persiapan telah dilakukan dan tibalah di tanggal 1 Juni 2013. Pagi pukul 03.30 WIB saya sudah dihubungi Ketua Tim Pendakian Fariez Fauzy Fadli dimana dia memastikan bahwa saya sudah bangun dan siap untuk berkumpul ditempat yang sudah disepakati bersama yaitu di Kantor BTN Syariah Yogyakarta Kotabaru pukul 04.30 selepas sholat subuh. Pukul 05.00 pagi saya bersama dengan 7 anggota tim pendakian lainnya yang notabene seluruhnya berasal dari BTN Syariah berangkat dari Yogyakarta menuju ke Kabupaten Semarang menggunakan kendaraan operasional kantor kami. Selain saya, tujuh orang lainnya yang berangkat bersama adalah Taufik Kurohman, Astrio Purna Wicaksana, Wahidun, Mulyanto, Dedi Supriyanto, Fariez Fauzy Fadli, dan terakhir Ferdian Akmal. Hampir sebagian dari mereka sudah memiliki pengalaman menaiki gunung-gunung di Pulau Jawa. Kami menamakan tim pendakian ini adalah Tim BTN Syariah Jogja Adventure.

Jam sudah menunjukan pukul 07.00 akhirnya kita sampai di Basecamp Pendakian Taman Nasional Gunung Merbabu, kali ini kita memutuskan untuk menaiki Gunung Merbabu melalui Basecamp Dusun Tekelan. Basecamp ini dapat di jangkau dari Yogyakarta menuju Magelang lalu kearah Salatiga dan menuju Kopeng setelah itu dilanjutkan menuju Dusun Tekelan, Desa Batur, Kec. Getasan, Kab. Semarang. Apabila anda menggunakan kendaraan umum juga sangat mudah untuk dijangkau yaitu dari arah Magelang naiklah mikro bus kecil menuju kearah Kopeng dan anda dapat melanjutkan perjalanan anda dengan jalan kaki menuju ke basecamp Tekelan atau menggunakan ojeg. Sebagai informasi apabila kita mau mendaki Gunung Merbabu ini sebenarnya ada beberapa pilihan opsi pendakian yaitu melalui beberapa jalur berikut ini :

  1. Jalur Selo, Desa Tarubatang, Kec. Selo, Kab. Boyolali
  2. Jalur Wekas, Desa Kenalan, Kec. Pakis, Kab. Magelang
  3. Jalur Tekelan, Desa Batur, Kec. Getasan, Kab. Semarang
  4. Jalur Cunthel, Desa Kopeng, Kec. Getasan, Kab. Semarang

Di basecamp pendakian ini kita mengisi formulir identitas nama-nama pendaki yang akan berangkat mengarungi Taman Nasional Gunung Merbabu, termasuk perkiraan waktu kembali dari Gunung Merbabu. Di basecamp ini terdapat, sebuah warung yang menyediakan sarung tangan, kaos kaki, alat-alat pendakian, makanan kecil, dll. Ditempat ini pula terdapat tempat penitipan sepeda motor dan kendaraan roda empat, rumah pemilik basecamp yang menyediakan tempat tidur untuk beristirahat, dll. Sangat direkomendasikan untuk melalui pendakian dari basecamp ini.

Image

Tim BTN Syariah Jogja Adventure di Basecamp Tekelan sesaat sebelum pendakian

Pendakianpun dimulai, tepat pukul 08.55 kami mulai melangkahkan kaki menyusuri jalur menuju Taman Nasional Gunung Merbabu. Pertama kita melewati padang pertanian penduduk seperti ladang kubis, ladang tanaman tembakau, dan setelah 15 menit berjalan kita langsung disuguhi rimbunan pohon pinus. Disepanjang perjalanan tersebut kita bertemu masyakarakat lokal yang sedang bertani atau sedang membawa hasil panennya ataupun hasil pencarian rumput dan kayu bakar. Saya sangat termotivasi ketika melihat beberapa nenek renta yang masih kuat melangkah dengan cepat menanjaki ladang dan bukit disekitar kaki gunung tersebut. Tiba-tiba, baru berjalan sekitar 20 menit ada salah satu anggota tim yang memutuskan untuk membatalkan pendakian dengan alasan satu dan lain hal, sehingga kita mendaki hanya bertujuh orang saja namun hal ini tidak memupuskan semangat kami. Ibarat sebuah kehidupan, kita harus mempunyai kebulatan tekad dan keyakinan serta kemauan keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita harus berangkat dari keyakinan kita pasti bisa sehingga kondisi apapun yang mendera kita selama pendakian dapat kita lalui dengan baik.

Perlu teman-teman ketahui, karena ini adalah pendakian saya pertama kalinya, di perjalanan dari basecamp Tekelan menuju Pos I Pending ini saya berkeringat luar biasa seperti hujan, dan inilah keringat luar biasa saya yang mengucur dengan deras seperi hujan J (ketahuan kalau kurang olah raga hehe). Jalur menuju Pos I ini juga mempunyai track yang naik, naik, naik, dan naik terus hanya diladang penduduk sekitar 10 menit kita dimanjakan dengan daerah yang landai. Alhamdulillah setelah satu jam berjalan sampailah kita di Pos I Pending. Saya, Mas Taufik, dan Fariez sudah sampai 15 menit sebelum anggota tim lainnya sampai di pos ini. Pos ini terdiri dari sebuah bangunan permanen seperti rumah namun terbuka dan menyediakan air bersih disekitar Pos I ini. Di pos ini pula dikelilingi pohon-pohon pinus yang sangat rindang dan berada di ketinggian sekitar 1.930 mdpl.

Image

                                                                    Pos I Pending

 Mulai dari Pos I ini menuju Pos 2 yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan ini kita sudah jarang atau bahkan tidak menemukan penduduk yang sedang berladang, mencari kayu bakar, atau mencari rumput. Pemandangan yang indah dan menawan dari jalur ini membuat semangat terus menggelora untuk bisa secepatnya bisa mencapai puncak Merbabu (walaupun masih jauh sekali). Hutanpun semakin rimbun dan padat namun jalur Tekelan menuju Puncak Merbabu ini sangat mudah dibaca karena terdapat banyak petunjuk arahnya. Berbicara masalah hutan, apabila digunakan klasifikasi vegetasi hutan Indonesia menurut Van Steenis, maka kawasan TN Gunung Merbabu mempunyai formasi hutan berikut ini :

  1. Hutan Hujan Pegunungan (elevasi ketinggian 1.000-2.400m dpl)
  2. Hutan Hujan Sub Alpin (elevasi ketinggian 2.400-3.150m dpl)

Akhirnya sampailah kita di Pos II atau Pos Ijo tepat pukul 11.00, disebut Pos Ijo karena bangunan yang ada di Pos ini yaitu sebuah gubuk kecil berdinding seng ini dahulunya berwarna ijo namun karena sudah luntur dan dicorat-coret sehingga sudah tidak terlihat warna aslinya. Pos ini disebut juga sebagai Pos Pereng Putih, karena disekitar pos ini kita disuguhi pereng atau tebing-tebing bebatuan yang berwarna putih dan indah sekali. Tempat ini sebenarnya bisa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda namun tentunya jarak dari Pos II ini ke puncak masihlah sangat jauh sehingga untuk berkemah direkomendasikan di pos lainnya yang lebih dekat dengan Puncak Merbabu. Pos ini berdiri di ketinggian 2.165 mdpl.

Image

                    Pos II Pendakian Puncak Merbabu (Pos Ijo/Pos Pereng Putih)

Image

                          Kondisi track jalur pendakian dari Pos II ke Pos III

Kembali berjalan dan mendaki menyusurui pesona Taman Nasional Merbabu, jalur yang dilaluipun masih naik, naik, dan naik, terjal memang namun masih dapat di tolerir. Setelah berjalan sekitar 1 jam kita sudah sampai di Pos III yaitu Pos Gumuk Mentul, lokasi ini berada di ketinggian 2.342 mdpl. Di pos ini tidak terdapat bangunan seperti yang terdapat di Pos I dan Pos II hanya sebuah tanah lapang. Air disini pun masih ada, namun ini adalah pos terakhir yang menyediakan air. Di pos ini terdapat petunjuk untuk mendapatkan air dengan jarak 20 m dari pos namun setelah saya dan anggota tim lainnya mencari hingga 100 m ke arah air tersebut namun kami tidak menemukan sumber air yang dimaksud. Di Pos ini anggota tim Taufik Kurohman juga sempat melihat satwa yang jarang kita lihat yaitu sejenis Kera berukuran besar. Disini kita melakukan solat Dhuhur dan Ashar kita sekaligus dengan cara tayamum untuk mensucikan badan kita terlebih dahulu. Setelah sholat duhur dan ashar kita melanjutkan makan siang dengan bekal yang sudah kita bawa seperti roti tawar.

Image

Sesaat sebelum memasuki Pos IV sudah jarang ditemui pepohonan, kita mulai memasuki padang sabana

Setelah beristirahat selama 30 menit kita melanjutkan perjalanan menuju ke Pos IV, dari posisi ini sebenarnya saya sudah mulai sedikit cape karena track yang mulai menanjak, namun apresiasi dari teman-teman seperti mengatakan “Erik, kamu luar biasa dan pasti bisa” itulah yang membuat saya menyimpan rasa capek saya dan terus semangat untuk mengarungi Taman Nasional Merbabu. Satu hal penting yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah ternyata “The Power of Appreciation”’ itu efeknya sangat luar biasa, hal ini dapat saya pelajari dan saya gunakan nantinya dikehidupan yang lain, hal kecil seperti bagaimana kita mengucapkan kepada orang lain “Kamu Hebat” atau “Kamu Keren” ternyata dapat menimbulkan semangat baru bagi orang lain tersebut. Hal yang saya senang dan sangat kagum dari tim ini adalah mereka tidak ada sedikitpun dari perjalanan awal sampai dengan akhir yang menyampaikan secara verbal “Saya Capek”, “Uh, jauh banget masih”, “Aduh, Jalannya Naik Terus Sih”. Puji syukur mereka selalu melontarkan kalimat-kalimat positif sepanjang perjalanan dan malah saling mengapresiasi satu sama lain. Dan saya yakin ini adalah salah satu kunci keberhasilan tim menuju puncak Gunung Merbabu ini. Karena seperti apa yang dikutip dari Buku The Secret karangan Rhonda Byrne dimana apabila kita melontarkan atau memikirkan hal-hal yang positif maka hasilnya juga akan positif, namun apabila kita melontarkan kata-kata atau pemikiran negatif maka hasilnya adalah kegagalan atau hal-hal negatiflah yang akan terjadi.

Image

Pos IV Pos Lempong Sampan, pos ini mempunyai tanah cukup lapang sehingga sering digunakan pendaki untuk mendirikan tenda karena sudah dekat dengan Puncak Merbabu

Setelah sekitar 1,5 jam berjalan akhirnya kita sampailah di Pos IV yaitu lebih dikenal dengan Pos Lempong Sampan. Pos ini cukup lapang dan biasanya digunakan juga oleh pendaki sebagai tempat mereka berkemah atau mendirikan tenda karena ini adalah pos pendakian terakhir dan jaraknya hanya sekitar 1,5 jam dari Puncak Pertama Watu Gubuk atau sekitar 3-4 jam dari Puncak Syarif dimana mereka bisa melanjutkan pendakiannya didini hari. Di pos ini adalah perpisahan antara hutan belantara dan daerah rerumputan kering, namun disini perlu diwaspadai akan binatang-binatang liar karena masih dekat dengan hutan yanng cukup lebat. Pos ini berada di ketinggian 2.509 mdpl.

Image

Padang Sabana selepas dari Pos IV menuju Puncak I Gunung Merbabu

Istirahat di pos ini cukup lama sekitar 20 menit, kemudian perjalanan kita lanjutkan menuju Puncak Pertama Gunung Merbabu yaitu Puncak Watu Gubug, perjalanannya semakin menguras tenaga karena medan yang sangat curam dan sebagian berbatuan, disini kita sudah mulai banyak berhenti dengan melihat tingkat track yang semakin menantang dan kondisi fisik yang sudah berjalan cukup lama sekitar 4,5 jam. Namun karena kita semua anggota tim sudah menentukan goal atau target pertama kita harus bermalam disekitar Pos Helipad yaitu setelah Puncak II atau Watu Tulis (sekitar 2,5 jam perjalanan lagi) sehingga kaki yang terasa berat untuk berjalan pun tetap kita paksakan dan alhamdulillah kita bisa mencapai Puncak I Taman Nasional Gunung Merbabu ini. Ada hal yang dapat kita ambil dari hal ini kedalam kehidupan sehari-hari kita, yaitu kita hidup harus memilih apakah kita akan menjadi orang yang biasa-biasa saja melakoni kehidupan dengan biasa-biasa saja mengikuti arus saja atau kita akan hidup dengan tujuan dan goal yang jelas, goal yang sudah kita bisa tentukan kapan hal itu akan dicapai dan diimplementasikan beserta bagaimana kita berfikir untuk mencapainya. Apabila kita memilih opsi yang kedua beserta konsekuensinya kita akan semakin semangat dalam hidup, hidup kita akan penuh passion, penuh antusiasme karena kita sudah membayangkan dan mengafirmasikan apa yang akan kita raih dan merasakan perasaan yang akan kita raih itu sehingga hal-hal yang kita hadapi kedepan dapat kita selesaikan dan minimalisir. Kembali ke masalah Gunung Merbabu kembali, sebagai informasi bahwa Gunung Merbabu ini memiliki 7 puncak gunung atau biasa disebut 7 summits. Ketujuh puncak gunung ini adalah Puncak Watu Gubug, Puncak Watu Tulis, Puncak Geger Sapi, Puncak Syarif, Puncak Ondo Rante, Puncak Kenteng Songo, dan Puncak Trianggulasi. Di puncak yang pertama ini kita berada di ketinggian 2.729 mdpl, anda juga sudah dapat membayangkan seperti apa puncak ini dari nama puncaknya. Ya, Watu Gubug berarti puncak ini penuh bebatuan besar. Disini pemandangan sungguh luar biasa. Kita bisa melihat bentangan alam yang sangat luas, permadani awan seolah-olah berada di bawah kaki kita, embun yang mengembuspun seolah-olah mengirimkan ke eksotisan tempat ini, tanaman yang tumbuhpun hanya rumpur-rumput kering dan peponan kering.

Image

Melalui jalur ini pendaki harus sangat berhati-hati dengan bebatuan yang terjal dan liar menuju Puncak I Watu Gubug

Dari sini godaan untuk berhenti dan mendirikan tenda tidak sesuai tujuan awal ataupun goal pun sudah mulai merasuki masing-masing anggota tim karena melihat medan yang lebih dahsyat lagi daripada sebelumnya. Kali ini kita akan menanjaki sebuah lereng bebatuan dengan kemiringan sekitar 80-90 derajat. Karena saking fisik yang sudah mulai lemas, terkadang kita harus menaiki lereng tersebut dengan ngengsot. Namun sekali lagi karena puncak ini sudah menyimbakkan pemandangan yang sangat luar biasa dan adanya tiang pemancar radio yang menunjukan bahwa berdirinya tiang tersebut adalah Puncak II Watu Tulis sehingga kita tetap semangat mengejarnya. Perjalanan ke Puncak II Watu Tulis ini memang terdapat adanya tanah yang lumayan lapang bisa digunakan untuk berkemah dan memang sering digunakan pendaki untuk berkemah. Dari Puncak I ini pula kita bisa melihat lapangan sabana yang terkenal dengan nama Pos II bagi teman-teman yang naik melalui Basecamp Wekas, di Pos tersebut terdapat daerah rerumputan cukup luas dan bisa didirikan tenda yang cukup banyak. Pada saat saya berada di Puncak II tersebut saya melihat terdapat lebih dari 10 tenda yang berdiri.

Image

Dahsyatnya Merbabu!!!Semangat!!!

Jalanan terjal dan berbatupun dapat kami lalui dan sampailah kita di Puncak II Gunung Merbabu yang dikenal dengan nama Puncak Watu Tulis dimana ketinggian dari puncak ini adalah sekitar 2.885 mdpl. Puncak ini terdapat menara radio komunikasi milik TNI AD beserta dengan ruang kontrolnya namun tower ini sudah tidak digunakan lagi sepertinya. Disinipun kami menemukan dua pendaki yang membangun tenda disekitar puncak ini. Namun apabila akan mendirikan tenda di puncak ini haruslah berhati-hati karena tanah yang ada tidak cukup lapang dan sangat berbahaya karena angin cukup kuat padahal kanan dan kiri puncak ini tentunya jurang. Konon katanya puncak ini dinamakan Watu Tulis karena dahulu puncak ini terdapat prasasti bertulis jawa kuno namun saat ini batu tersebut sudah tidak ada. Di Puncak ini perasaan capek, lelah, dan hal-hal negatif lainnya sudah mulai menghilang karena untuk menuju tempat dimana kita akan tinggal dan mendirikan tenda hanya tinggal disusuri dengan cara turun bukit naik sebentar dan turun sampailah di Pos Helipad tempat dimana kita akan tinggal semalam.

Image

Kondisi Puncak II Gunung Merbabu (Watu Tulis/Puncak Menara)

Singkat cerita akhirnya kita sampailah di Pos Helipad, Pos yang sudah ditentukan untuk kita mendirikan tenda, namun lokasi tenda didirikan bukan tepat berada di pos helipad karena disekitar itu terdapat kawah belerang yang cukup berbau menyengat sehingga kita ambil bagian kanan dari pos helipad tersebut sedikit menuruni bukit dan menemukan tanah lapang yang bisa digunakan untuk mendirikan 5-6 tenda. Di lokasi kami mendirikan tenda sudah terdapat 2 tenda yang berdiri sehingga kami menggunakan ladang kosong lainnya. Tetangga yang mendirikan tenda disamping kita itu berasal dari Salatiga mereka adalah rata-rata anak-anak SMA.

Image

Kami mendirikan dua tenda disekitar Pos Helipad

Image

Pemandangan awan dan tebing dari sekitar tempat tenda kami berdiri, dari sini kami bisa melihat Pos II dari para pendaki yang melalui Jalur Wekas dimana pos tersebut banyak didirikan tenda semacam Bumi Perkemahan

Sorepun berganti menjadi malam, sebagian tim mendirikan tenda dan sebagian lainnya diantaranya saya dan Rio mencari kayu bakar sebagai bahan baku api unggun kita. Udara maghrib disekitar tempat kami tinggal sangatlah dingin mungkin antara 10-12 derajat celcius sehingga jaket anti angin, sarung tangan, dan celana panjang serta kaos kakipun tidak bisa kita tinggalkan. Tenda berdiri, api unggun sudah dinyalakan, barang-barang sudah ditata dengan baik, kegiatanpun dilanjutkan dengan memasak air untuk selanjutnya memasak mie goreng, memakan roti tawar, meminum kopi, dan susu. Satu pelajaran penting disini, jarang sekali saya dapatkan mungkin pada saat saya berorganisasi di kampus dan masyakarat mendapatkannya, namun jarang sekali saya mendapatkan setulus dan sehangat ini, kita memasak dan makan malam bersama, satu dan lainnya saling bahu membantu menyediakan kopi, menyalakan api, dan terkadang satu piring mie yang kita makan kita makan bersama beberapa orang sekaligus, sungguh sangat indah, saya sangat bersyukur bisa mengikuti perjalanan ini. Pola intinya adalah sebuah kerjasama yang kita lakukan secara bersama-sama dan sebuah keberhasilan yang kita capai dan dinikmati bersama ternyata hasilnya akan sangat jauh lebih nikmat. Ini tidak akan menjadi pengalaman yang terlupakan. Setelah kita makan bersama, dilanjutkan dengan mendirikan solat maghrib dan solat isya bersama-sama, sungguh nikmat kuasa Tuhan Alloh SWT dapat memberikan saya pengalaman ini saya bisa sholat diatas gunung dengan kondisi gelap gulita hanya diterangi oleh api dan langit, penuh bintang, rindangnya pepohonan dan semilir angin yang menggigil. Terima kasih sekali lagi kepada semua anggota tim yang sangat luar biasa. Setelah solat kita lanjutkan dengan membaca asmaul husna dan berdoa bersama-sama. Nikmat sekali. Baru setelah itu kita makan malam lagi, membuat mie lagi hehe dan kongkow kongkow serta curhat lagi. Baru setelah itu kita tidur karena pukul 03.30 WIB kita harus bangun dan melanjutkan perjalanan ke puncak Syarif untuk mengejar sunrise.

Suasana malam disini sungguhlah indah, indah sekali. Bintang dengan terang menunjukan kemilaunya, bulan sabit seolah-olah tersenyum dengan lengkungannya menerangi gelapnya puncak Merbabu. Malam mulai sunyi, disaat semua teman-teman sudah terlelap tidur, yang tersisa hanyalah arang dari kayu yang dibakar untuk dijadikan api unggun. Sesaat saya keluar tenda untuk menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan Sang Pencipta ini. Ditengah malam itupun masih ada saja para pendaki yang sedang melanjutkan pendakian dan mencari tempat lapang untuk bermalam, corat corot cahaya senter terlihat dari kejauhan. Malam disana jauh dari sebuah malam yang menakutkan, namun malam penuh syukur.

Image

Menuju Puncak Syarif selepas sholat subuh 04.30, foto diambil sekitar pukul 05.30

Sekitar jam 3 pagi, sebagian anggota tim sudah terbangun dan mereka mulai menyalakan api unggun kembali agar tubuh ini tidak terlalu menggigil. Memasak air untuk disajikan didalam mie-mie yang sudah tersaji didalam mangkok dan untuk menyajikan kopi, jahe, atau susu untuk bisa menghangatkan tubuh ini. Setelah semua anggota tim bangun, kita memulai sarapan pagi bersama sebelum kita menaiki Puncak Syarif Merbabu. Dilanjutkan pada pukul 4.20 kita melaksanakan sholat subuh bersama diatas dua buah jas hujan batman dan spanduk yang sudah mulai membasah karena embun. Sebenarnya banyak anggota tim yang sudah mulai mendaki ke beberapa puncak di Merbabu untuk menikmati pesona Sunrise itu ada yang sudah mendaki jam 2 malam, jam 3 pagi, jam 4, dsb. Apabila kita tarik didalam filosofi kehidupan, ternyata banyak orang-orang yang sudah mempersiapkan diri untuk mewujudkan “wildy important goal” mereka lebih awal dari kita dengan sangat baik dan sangat rapi. Mereka ingin mencapai puncak terlebih dahulu dan menikmati lebih lama keindahan dari kerja keras yang mereka lakukan untuk mencapai puncak. Sehingga dari hal ini, kita perlu cermat dalam hidup banyak teman-teman kita yang sudah “start” terlebih dahulu untuk mencapai garis finish yaitu sebuah kesuksesan, jadi kita jangan sampai tertinggal “start” itu, mari berlomba-lomba untuk bisa start lebih awal dan finish lebih awal dari mereka. Kerja keras dan kesungguhan itu sudah jelas akan dibayar lunas oleh sebuah kesuksesan dan kenikmatan tiada tara. Dari sebuah kerja keras menuju puncak Merbabu ini saya jadi ingat sebuah kalimat mutiara yang disampaikan oleh Andrie Wongso yang sangat terkenal beberapa waktu yang lalu. Dia mengatakan “Jika anda KERAS kepada dunia, maka dunia akan LUNAK kepada anda; namun jika anda LUNAK pada dunia, dunia akan KERAS kepada anda”. Ya betul sekali kalimat mutiara itu, kita memang harus keras untuk mewujudkan apa yang ingin kita capai dan apa yang ingin kita raih seberat dan sekeras apapun itu, karena apabila kita sudah melewatinya kita hal-hal lain akan melunak kepada kita, kita akan dengan mudah untuk mewujudkan goal-goal lainnya yang lebih “wildy” lagi, disisi lain atas kerja keras yang kita kejar tersebut kita akan menikmati dengan sangat penuh syukur apa yang telah kita dapatkan dan dengan secara sendirinya rasa capek atas kerja keras itu akan hilang.

Image

Permadani awan dan Sang Surya menyerbakan keindahan Puncak Syarif Gunung Merbabu

Image

Bersama Mas Taufik Kurohman dengan background adalah Gunung Merapi

Perjalanan menuju Puncak pun kembali di lanjutkan, kali ini berjalan menaiki, merangkaki, merambati bukit menuju Puncak Gunung Semeru dengan kondisi masih gelap gulita. Jaket penahan angin, sleyer, sarung tangan, senter selalu siaga untuk memberi penerangan. Baru sekitar 20 menit berjalan sampailah kita di Jembatan Setan, begitulah banyak pendaki menyebut jembatan ini yaitu sebuah jalur pendakian dimana kanan dan kiri dari jalur ini adalah sebuah jurang. Dengan perlahan, tubuh ini berjalan merambat menyusuri bukit yang memanjang tersebut. Udara yang dingin diselimuti kabut dan embun pagi membuat tubuh ini tidak terlalu berkeringat, berjalan terus menyusuri bukit ini jalur semakin menyempit dan panjang seolah-olah kita berjalan dipunggung sapi, oleh karena ini disebut sebagai Puncak Geger Sapi. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam dari Pos Helipad, kita sampailah di Puncak Gunung Merbabu yaitu Puncak Syarif. Puncak ini mempunyai ketinggian 3.140 mdpl. Di puncak ini terdapat puluhan pendaki yang sedang menikmati kesuksesan mereka atas hasil kerja keras mereka untuk mewujudkan impian dan goal mereka. Ada yang sedang menikmati coklat yang dilelehkan, menikmati susu, dan ada juga sepasang muda-mudi yang menikmati keindahan permadani alam dengan berpose layaknya Leonardo De Caprio dan Kate Winslet diujung kapal termegah di awal abad 20 yaitu Titanic. Gunung Merapi hampir tenggelam oleh lautan awan menambah kegagahan gunung yang masih aktif tersebut.

Image

Seluruh anggota Tim BTN Syariah Jogja Adventure di Puncak Syarif Gunung Merbabu 3.140 mdpl

Image

Salah satu pemandangan Puncak Syarif Gunung Merbabu

Ya itulah sebuah penggalangan perjalanan hidup, perjuangan hidup, dan sebuah cara menikmati dan memfilosofikan sebuah arti kehidupan. Perjalanan ini tentunya tak akan pernah terlupakan. Semoga cerita dari perjalanan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca tulisan ini.

Image

Menuruni Puncak Syarif menuju tempat camping kami

Namun sebelum saya menutup cerita ini, ada satu hal yang ingin saya share kepada seluruh pembaca sekalian dari apa yang saya dapatkan dari pendakian saya ke Merbabu ini dimana selama saya berjalan mendaki dan menuruni gunung ini banyak bertemu dengan para pendaki lain dan mereka sangatlah kooperatif, saling menegur sapa sekadar menanyakan berasal dari mana dan berangkat jam berapa, diantara para pendaki yang tidak kita kenal itupun banyak yang saling bantu membantu seperti mereka menawarkan makanan dan minuman hangat kepada kita disetiap tenda atau tempat yang kita lewati saat pendakian, saling bekerja sama menaiki gunung, dan saling memberi akses jalur sempit yang hanya bisa dilalui satu orang secara bergantian atau sekadar mengingatkan jalur pendakian agar pendaki lainnya tidak tersesat. Malahan ditempat kami bermalam, kami dibantu oleh rekan-rekan SMA dari Salatiga yang menawarkan memberikan kayu bakar kering untuk api unggun kita, dipagi harinya juga ada dua mahasiswi UGM yang menyempatkan mampir ke tenda kami untuk membantu memasak mie, merebus air untuk minum susu dan perbekalan makan siang kami. Kedua perempuan tersebut, sekadar membantu kami memasak karena salah satu perempuan itu sandalnya sama persis dengan yang saya pakai dan satu anggota tim kami lainnya pakai. Mereka sangatlah hangat, terima kasih Rani dan Anita, keduanya adalah mahasiswi ekonomi Universitas Gadjah Mada angkatan 2011. Terima kasih kami tidak akan melupakan canda tawa dan bantuan kalian. Semoga bisa bertemu lagi. Jiwa-jiwa dan sifat-sifat positif seperti inilah yang perlu kita implementasikan didalam kehidupan nyata sehari-hari. Jiwa-jiwa saling membantu, saling mengingatkan, saling tulus, saling menyapa. Sungguh indahnya perjalanan ini.

Image

Anita dan Rani teman sesama pendaki dari Kampus UGM Yogyakarta sedang membantu masak di camp kami

Image

Banyak para pendaki yang baru akan naik ke Puncak Merbabu, sehingga kami harus berbagi jalan secara bergantian karena medan yang cukup sempit

Tuhan saya, saya harap saya masih bisa menikmati keagunganmu melalui pendakian-pendakian selanjutnya. Amin, amin ya Rabal alamin.

Special thanks to Tim BTN Syariah Adventure : Mas Taufik Kurohman, Fariez Fauzy Fadli, Astrio Purna Wicaksana, Wahidun, Dedi Supriyanto, dan Mas Mulyanto. Terima kasih juga kepada Mas Wahyu Dwi Untoro dan Ferdian Akmal yang telah memfasilitasi kami Tim BTN Syariah Adventure ke Basecamp Tekelan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s