Dalam artikel ini saya ingin melanjutkan cerita saya sebelumnya yang berjudul Antara Purwokerto dan Narita Tokyo (Menuju Negeri Paman Sam Part I). Bagi yang belum membaca artikel tersebut bisa klik disini. Cerita sebelumnya saya dan rombongan sudah sampai dengan selamat di Bandara Internasional Narita Jepang. Setelah melakukan eksplorasi (bahasa gaollnya: hang out) di Bandara ini selama sekitar 6 jam, akhirnya kami dan rombongan menuju Check In counter United Airlines yang letaknya tidak jauh dari kawasan pertokoan duty free Terminal 1. Kalau anda baru saja mendarat di Terminal 2 Bandara Narita dan naik bus yang menghubungkan ke Terminal 1, kemudian setelah anda naik tangga akan ada T-Junction, dimana berdasarkan pengamatan saya apabila anda belok kiri anda akan mendapatkan kawasan pertokoan duty free dan apabila anda ke kanan disana anda akan menemui banyak gate keberangkatan, check in counter airlines, executive lounge airlines, dll.

Kembali ke masalah check in tadi, kami perlu melakukan check in untuk kedua kalinya karena pesawat yang akan membawa kami ke AS adalah pesawat yang berbeda. Setelah sebelumnya saya terbang dengan pesawat Japan Airlines dari Jakarta ke Tokyo Narita, kali ini saya akan melanjutkan perjalanan saya dengan menggunakan United Airlines yaitu salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat. Berdasarkan informasi yang saya baca dari Skytrack (lembaga independen yang berpusat di Inggris yang memberikan pemeringkatan terhadap pesawat) maskapai United Airlines adalah maskapai penerbangan bintang 3 dengan nilai kepuasan konsumen tidak lebih dari 6 dari 10. Tentunya Japan Airlines lebih bagus karena Japan Airlines seperti halnya Garuda Indonesia sudah masuk klasifikasi maskapai berbintang 4. Apalagi national carrier kita Garuda Indonesia nilai kepuasan konsumennya mencapai 8,2 dari 10. Hebat bukan produk dalam negeri kita. Waktu kami maju ke meja check in UA pada pukul 13.10 untuk melapor dan mendapatkan boarding pass ternyata meja check in masih tutup dan kami dikasih tau oleh petugas yang ada disekitar meja check in tersebut bahwa check in baru akan dibuka pada pukul 13.30an. Hmmm, sangat merepotkan juga rupanya, karena pengalaman saya terbang dengan Singapore Airlines di Bandara Changi terdapat check in counter SQ yang buka 24 jam (untuk penumpang transfer) sehingga kita bisa bebas mendapatkan boarding pass kapan saja selama penerbangan kita tidak lebih dari 24 jam dari keberangkatan. Akhirnya kita menunggu deh sampai pukul 13.30an.

Setelah counter check in United Airlines dibuka saya menjadi orang pertama yang melapor untuk mendapatkan boarding pass. Selain saya harus memperlihatkan e-ticket, paspor dan visa, ternyata saya harus melepas DS2019 (dokumen dari penyelenggara beasiswa) yang sudah di staples di paspor saya. Namun, proses check in nya berlangsung lebih lama bahkan saya pada saat itu kan hanya melapor untuk mendapatkan boarding pass tidak dalam posisi membawa bagasi (karena bagasi saya sudah melalui check-in thru di Jakarta). Petugas dari check in ini melihat paspor saya kemudian melihat dan mengontrol bolak balik visa AS saya, serta menelpon kepada entah siapa dengan menyebutkan nomor control visa saya. Alhamdulillah ternyata tidak ada masalah berarti dan saya mendapatkan boarding pass United Airlines sekaligus dua, yang pertama boarding pass UA804 untuk tujuan Narita (NRT) – Washington D.C. (IAD), dan yang kedua adalah boarding pass untuk Washington Dulles (IAD) ke Port Colombus International Airport (CMH). Kenapa boarding pass saya langsung dua dan tidak perlu melakukan check in lagi di USA untuk mendapatkan tiket penerbangan lanjutan???itu karena dari Jepang sampai di negara bagian atau Ohio State saya menumpang pesawat yang sama untuk dua penerbangan berikutnya yaitu United Airlines walaupun nomer penerbangan yang berbeda.

Sesuai apa yang tertera di boarding pass kita harus menuju gate 47 untuk mendapatkan pesawat yang akan membawa kita ke IAD (Washington Dulles International Airport). Gate ini letaknya agak jauh di depan sana dan pojok sebelah kiri, sehingga saya memanfaatkan travelator (lantai berjalan) yang tersedia di sepanjang jalur menuju gate tersebut. Saya juga menyempatkan pergi ke toilet setelah saya sampai di gate, pikirku ini penerbangan jauh hampir 16 jam kalau kepengen B*B di pesawat kan males alias repot. Hehehe. Apalagi di Bandara Narita ini untuk restroomnya ada beberapa pilihan untuk itu, ada yang jongkok, duduk dan pakai tissue, ada juga yang duduk dan menggunakan air. Jadi sangat nyaman hehehehe.

Penerbangan kita sesuai apa yang tertera di boarding pass adalah pukul 16.00, namun sampai dengan pukul 15.35an saya berfikir kok kita belum disuruh naik pesawat. Barulah beberapa menit kemudian kita disuruh masuk ke pesawat dengan cara urutan masuknya. Urutan itu berdasarkan angka yang tertera di boarding pass yaitu dari angka 1 – 4, dan pada saat itu kami angka 3 jadi agak lama juga untuk kita masuk ke pesawat apalagi jumlah penumpangnya sangat banyak karena pesawat yang akan kita tumpangi adalah berjenis Boeing 777. Setelah angka urutan kita dipanggil kami maju kedepan dan mengikuti ritual rutin yaitu pemeriksaan keamanan, dari barang yang dibawa seperti laptop, hp, flashdisk, ikat pinggang, sepatu disuruh naik ke cart untuk melewati scanner.

Begitu masuk ke pesawat kita sudah di jamu oleh para Pramugari dan Pramugara United Airlines yang akan kita tumpangi ini, dan apa kesan pertama saya?Ohhh, mereka berbeda dengan pramugara dan pramugari yang sering saya temui sebelumnya. Mereka sudah berumur alias tua, hehehe. Mungkin sekitar 45 tahunan lebih umurnya rata-rata. Mereka menanyakan dimana saya duduk dan memberikan petunjuk lewat mana saya harus jalan. Setelah seluruh penumpang duduk ternyata sampai dengan pukul 16.20an sesuai dengan jam tangan saya yang sudah di set up ke waktu Jepang pesawat ini belum bergerak sama sekali, para pelayan pesawat alias pramugara dan pramugari masih hilir mudik kesana kesini. Barulah sekitar 16.30 pesawat melakukan taxi menuju runway. Kali ini saya duduk di kelas ekonomi bagian tengah dan di aisle kiri (aisle itu tempat duduk di samping jalan untuk berlalu lalang). Hmm, mungkin akan bosan pikirku gak bisa liat luar pesawat. Namun perjalanan ini juga akan sangat menarik karena disekitarku ada teman-teman yang sangat seru.

Ketika pesawat sudah stand by di landasan pacu, saya menyempatkan diri untuk berdoa didalam hati, inti dari doaku adalah “Ya Alloh, Ya Tuhanku jangan jadikan ini perjalanan terakhirku ke Jepang, semoga suatu saat aku bisa datang lagi kesini dan mengeksplore Jepang lebih luas lagi”. Itulah inti doa yang kupinta kepada Alloh SWT. Kemudian pesawatpun terbang melalang buana mengelilingi setelah bumi. Setelah beberapa menit terbang, pramugari membagikan saya selembar I-94 dan selembar formulir customs declaration yaitu semacam kartu imigrasi dan bea cukai yang dikeluarkan oleh Pemerintah AS untuk kita berikan kepada petugas imigrasi CBP (Customs and Border Protection) ketika kita berada di point of entry dalam hal ini saya adalah Bandara Washington Dulles Internasional. Pada saat menit-menit awal penerbangan pesawat tidak terlalu nyaman, banyak goncangan dan untuk menulis I-94 pun sangat sulit hingga tulisan saya jelek dan sedikit corat caret. Sehingga saya meminta lagi kepada Pramugari lembaran tersebut.

Sejenak berfoto setelah menikmati softdrink dan snack yang dibagikan oleh pramugara UA804

Didalam pesawat tak banyak yang bisa dilakukan, saya lebih banyak mengandalkan monitor yang ada didepan kursi saya menonton film, mendengarkan music, tidur, melihat posisi pesawat dipeta serta mengobrol tentang berbagai hal dari berbagai analisis dan perspektif dengan teman-teman yang ada disekitar saya. Sesekali untuk meregangkan otot yang kaku saya jalan-jalan disekitar kabin ekonomi dan sekedar ke Pantry pesawat untuk berdiri. Walaupun kondisi interior pesawat terlihat tua, kusam, dan tidak lebih baik daripada Japan Airlines namun ada satu hal yang sangat saya sukai dalam penerbangan ini. Karena hampir setiap dua jam kita akan diberikan minuman dan kemudian makanan berat. Mungkin selama perjalanan saya mendapatkan 3x makan besar lengkap dengan saladnya dan lebih dari 3x pramugari yang datang untuk membagikan softdrink dan snack. Suatu ketika karena saya sudah bosan dengan coca cola, ketika pramugara bertanya “what do you want to drink, Sir?” saya menjawab “Please give me, a glass of mineral water, sir”, kemudian dia bingung dan bertanya lagi dan jawaban saya pun sama “mineral water”, dan atas kebingungannya itu dia memberikan saya sebotol air putih berkarbonasi. Owalaaahhhh, ini mah bukan air atuuuhhh, ahahaha. Ternyata kalo mau bilang minta minum air putih itu cukup bilang “just give me water, please” tanpa harus ditambah kata mineral. Hehe.

Tanpa bermaksud menjelekan maskapai ini ketidakramahan para pramugara dan pramugari dari maskapai ini yang sering saya dengar ternyata terbukti. Mereka sedikit “lebih tegas” dengan garis bawah dan tanda petik daripada pramugari yang sering tersenyum dalam segala kondisi dan bertanya dengan sangat ramah. Yang saya temui menurut saya biasa-biasa saja sih, lumayan ramah walaupun sedikit senyum asal membagikan saja, namun tak ada masalah bagi saya. Asalkan saya dilayani. Akan tetapi ada hal yang membuat saya ternganga ketika teman satu rombongan saya yang duduk dibagian belakang sebelah jendela ditanya ingin apa dan dia (teman saya) menjawab dengan agak berbelit-belit kemudian setelah menentukan pilihannya teman saya tersebut merubah pilihannya, sehingga sang pramugara tersebut bilang sambil nggrundel gitu mungkin kalo dalam bahasa Indonesia dia nggrundel “tadi pesen ini sekarang ini, gimana sih!”, mungkin bisa saya terjemahkan seperti itu. Memang benar, mungkin teman saya pada saat itu plin plan dan sedikit berbelit-belit namun untuk pelayanan jasa penerbangan seyogyanya tidak seperti itu.

Sesuai dengan judul dari artikel ini “mengintari setengah belahan bumi”, saya ingin memberikan gambaran rute perjalanan dari pesawat ini mengelilingi setengah belahan bumi. Ternyata rute pesawat ini tidak memotong dari Jepang langsung ke tengah-tengah samudera pasifik, namun pesawat ini menuju ke Jepang Utara terlebih dahulu, kemudian naik lagi ke sekitar daratan negara Rusia yaitu Kota Vladivostok, dan naik lagi ke atas hingga melewati Selat Bering (Bering Straits) yang memisahkan Rusia dengan Alaska. Disekitar selat tersebut juga membentang garis vertikal dari Kutub Utara ke Kutub Selatan yang dikenal dengan nama International Dateline. Sepanjang pengetahuan saya (koreksi kalau saya salah), garis inilah yang memisahkan zona waktu bumi bagian timur dan bumi bagian barat secara ekstrim. Begitu kita melintasi International Dateline ini sontak waktu yang ada di jam tangan kita perlu kita putar mundur. Sebagai gambaran, saya berangkat dari Jepang sekitar pukul 16.40 hari Sabtu tanggal 3 April 2010. Artinya dengan melewati International Dateline ini saya akan mengalami kembali hari Sabtu tanggal 3 April 2010 dengan seluruh detik dan menit yang telah saya lewati dan alami sebelumnya. Perkiraan saya ketika saya melewati International Dateline adalah sekitar jam 7 pagi, hari yang sama yang telah saya lewati sebelumnya.

Mungkin fenomena ini biasa saja bagi anda, tapi bagi saya ini sangat spesial. Karena sepanjang sejarah saya dapat naik 2 pesawat yang berbeda dengan waktu dan detik yang sama. Bingung dengan kalimat itu?Mari saya perjelas, pada tanggal 3 April 2010 sekitar pukul 7 pagi saya sedang menikmati perjalanan saya menuju Tokyo Narita menggunakan Japan Airlines. Kemudian setelah mendarat saya habiskan waktu saya hingga sore hari di daratan Jepang. Dan sayapun kembali pada tanggal dan jam yang sama yaitu pukul 7 pagi tanggal 3 April 2010 saat saya sedang menikmati perjalanan saya menuju Washington D.C.

Pegunungan es terlihat ketika pesawat UA804 yang kami tumpangi memasuki daratan Amerika

Melanjutkan kembali rute pesawat ini, kemudian dari pinggiran Selat Bering pesawat kembali berjalan melewati pinggiran Alaska. Disana tercatat kita sudah berada disekitar Kota Anchorage (kalau tidak salah ibukota negara bagian Alaska). Setelah itu melewati pinggiran Negara Kanada, dan melewati beberapa state (negara bagian) seperti Washington State, Indiana, dan termasuk negara bagian Ohio sebelum mendarat di Washington Dulles International Airport.

Demikian cerita perjalanan saya dari Narita menuju Washington D.C. yang saya rangkum dalam artikel Menuju Negeri Paman Sam Part II. Semoga bermanfaat dan tunggu lanjutan dari cerita ini.

Bersambung……

Comments
  1. ditunggu cerita berikutnya rik, hehehe =) btw cara buat live traffic itu gimana sih? Gw udah buka situsnya trus cara copy codingnya gmana? atau ada cara lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s