Alhamdulillahirobilalamin, detik-detik hari H keberangkatan menuju Negeri Paman Sam pun datang juga. Setelah sebelumnya saya harus mempersiapkan segala detail seluk beluk yang berhubungan dengan keberangkatan saya sejak bulan Desember 2009 dimana pada bulan itu saya mendapatkan notifikasi resmi bahwa saya menjadi salah satu penerima beasiswa IELSP Cohort VII yang akan berangkat ke Ohio University bersama 19 mahasiswa lainnya dari seluruh Indonesia.

Sehari sebelum keberangkatan yaitu pada tanggal 1 April 2010 saya berangkat menuju Jakarta dengan menggunakan Kereta Api Argo Lawu dari Stasiun Besar Purwokerto menuju Stasiun Gambir. Saya diantar menuju Stasiun Purwokerto oleh Mama saya, Bu Dhe, Pak Lik, Kakak dan Adik saya serta keponakan-keponakan saya (rameeee banget!!!ckckckck). Setelah duduk di stasiun sekitar 15 menit, datanglah teman-teman dari kampus termasuk juga salah satu dosen yang sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri, mereka ternyata ingin mengantarkan aku menuju Amerika Serikat. Terima kasih Mas Wisnu, Mas Dwi, Mas Kiki, Bapak Rusmusi. Tepat pukul 11.14 tepat seperti apa yang tertulis di tiket, kereta api yang akan membawaku ke Jakartapun datang dan siap untuk berangkat, disitu saya sempatkan diri untuk berpamitan dengan keluarga dan teman-teman semua, Mas Wisnu dan Kakak saya mencoba membawakan 2 koper saya yang berat masing-masing koper sekitar 18kg naik ke kabin kereta. Dan kereta api pun berangkat!

Sesampainya di Stasiun Gambir sekitar pukul 16.45 saya sudah ditunggu oleh teman saya Bang Ipay M. Fathi (makasih Bang Ipay bantuannya) di depan Dunkin Donat lantai dasar Stasiun Gambir. Saya sempat merasa tidak enak dan kasihan juga kepada Bang Ipay karena kereta yang membawaku ke Jakarta ternyata mengalami keterlambatan selama hampir 40 menit. Kemudian kita berdua langsung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dengan menggunakan Bus Damri Bandara. Sesampainya di Bandara kita langsung menuju Jakarta Airport Hotel karena malam ini saya bersama 19 mahasiswa Indonesia lainnya akan bertemu dan menginap di hotel tersebut sebelum besok malamnya kita berangkat ke Amerika. Saya mendapatkan kamar nomer 72 bersama Fauzan (ITS), Ahmad Yani (Samarinda), dan Agung (UIN Jakarta), senang sekali rasanya bisa mendapatkan fasilitas hotel dimana kita bisa melihat pesawat landing dan take off dari kamar hotel kita (ndesoo hehehe).

Tanggal 2 April 2010, setelah sholat Jum’at di Masjid sekitar Bandara dan setelah makan siang kami diminta berkumpul di Ruang Cockpit 1 Jakarta Airport Hotel untuk mendapatkan pengarahan dari IIEF yaitu disitu ada Mba Rathma Soma, Mas Yudhis, Mba Vera (kalo tidak salah ikut juga), Bunda Wiati Rahayu untuk memberikan pemaparan atau presentasi tentang kehidupan dan kebudayaan di Amerika Serikat, apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan baik selama perjalanan maupun di AS, dll. Setelah meeting selesai kita dipersilakan untuk istirahat (dalam arti bersih-bersih menjelang check out, makan sore, mandi, dll) dan diwajibkan untuk sudah berkumpul di “Meeting Point” depan Jakarta Transit Hotel antara Terminal 2D dan 2E pada pukul 18.00 WIB dengan membawa seluruh koper, backpack, dokumen yang akan dibawa ke AS.

Pukul 18.15 Bunda Wiati Rahayu chaperon dari IIEF yang akan memandu kita ke AS mulai mengabsen dan mengingatkan kita untuk selalu bersama, dll. Setelah sempat berfoto bersama untuk beberapa puluh scene pukul 18.40 kita mengantri di Counter Japan Airlines untuk melakukan check in dan membayar pajak Bandara yang besarnya IDR 150.000, dari sini saya harus sudah berpisah dengan 2 koper saya dan sampai jumpa 2 hari lagi koper hehehe (istilahnya apa yah kalo check in bagasi langsung ke Bandara Tujuan, ckckck, L-U-P-A). Setelah semua teman-teman check in Bunda menginstruksikan kepada kita semua untuk mengurus bebas fiskal yang loketnya terletak di sebelah pojok kiri tempat check in Japan Airlines. Dan setelah itu semua Bunda memberikan kelonggaran bagi kita bila mana kita kepengen keluar dari areal check in ke Food Court atau ke Mushola 2D Bandara untuk sholat isya, namun kita juga diingatkan agar berkumpul pada pukul 20.30 di pintu sebelum pemeriksaan fiskal dan imigrasi.

Sekitar pukul 20.45 teman-teman baru berkumpul di dekat Pintu Pemeriksaan Fiskal, dan karena kita harus sudah sampai ke Gate D6 setengah jam sebelum jam keberangkatan pesawat maka kita sedikit agak tergesa-gesa dari pemeriksaan fiskal, pemeriksaan imigrasi dan menuju gate. Ternyata di pintu sebelum masuk gate penuh sesaaak dan kita adalah beberapa penumpang terakhir yang masuk ke gate. Sebelum masuk gate kita diperiksa lebih ketat daripada kalau kita naik pesawat domestik. Ikat pinggang, tas, hp, sepatu harus dilepas dan dimasukan kedalam cart untuk dilakukan pemeriksaan melalui scanner.

Foto ini diambil sebelum pemeriksaan security ketika akan menuju gate D6 Japan Airlines

Setelah sampai dan tidak lama setelah duduk lesehan di lantai Gate D6 (karena begitu penuhnya penumpang) yaitu sekitar pukul 21.45, ada panggilan dari petugas bahwa seluruh penumpang Japan Airlines dengan nomer penerbangan JL726 tujuan Tokyo Narita dipersilakan untuk memasuki pesawat. Dan inilah menjadi pengalaman baru bagiku sebagai salah satu orang yang sangat mencintai dunia penerbangan untuk mengalami pengalaman pertama naik pesawat berbadan lebar seperti ini. Kalau tidak salah pesawat Japan Airlines yang membawa kita adalah jenis Boeing 767-200 (koreksi kalo saya salah).

Perlahan demi perlahan saya mengayunkan kaki menuju airbridge untuk masuk kedalam pesawat. Disana telah menunggu beberapa pramugari cantik ala Jepang memberikan ucapan kepada kita “Welcome Aboard” dan meminta saya menunjukan Boarding Pass kita serta menunjukan dimana tempat duduk kita. Setelah menemukan tempat duduk, ternyata saya duduk di kelas Y kelas paling belakang sendiri (ekonomi) namun tempat duduknya 2 atau tiga baris dari depan. Disitu saya duduk dengan seorang Ibu yang membawa anaknya yang berumur sekitar 5 tahun. Ibu tersebut duduk di Aisle dan anaknya ditengah serta aku dipinggir jendela. Selama di pesawat baik Ibu dan anak tersebut menggunakan masker sehingga kita tidak ngobrol cuman basa-basi ketika saya hendak ke restroom saja (hehehe).

Pukul 22.05 pesawat mulai bergerak untuk taxi menuju landasan pacu, disini rasanya degdegan mau meninggalkan tanah airrr. Kemudian pukul 22.15 tepat pesawat Japan Airlines dengan nomer penerbangan JL726 lepas landas menuju angkasa. Hmmmm, sangat bersyukur saya duduk di dekat jendela jadi saya dapat melihat beberapa objek dan tidak merasa bosan selama hampir 7 jam perjalanan dari Jakarta menuju Tokyo. Karena ini pengalaman pertama naik pesawat berbadan lebar (sebelumnya naik pesawat yang kecil seperti A320) disini insting saya untuk mengeksplore apa yang ada dihadapan saya berjalan, saya mulai menyalakan televise yang ada didepan saya dan mengoperasikannya untuk nonton film, game juga walaupun bingung tadinya bagaimana ini kok tulisan kanji semua namun setelah itu ternyata ada pilihan bahasa inggris. Saya sempat tidak tidur sampai dengan diatas Kota Banjarmasin, saya baru terlelap ketika akan meninggalkan Kalimantan menuju atas negara Filipina. Disini saya terbangun karena saya sudah berniat untuk bangun untuk melihat Negara Filipina tepatnya Kota Manila dari atas awan dengan panduan peta yang ada di pesawat. Dan terlihat lampu-lampu serta mobil yang lalu lalang disekitar pelabuhan diatas kota Manila (nampaknya). Setelah itu tidur lagi dan bangun sekitar pukul 05.00 waktu Jepang dimana matahari belum menampakan keseluruhan cahayanya, dan saya sempat menikmati matahari terbit dari atas pesawat di Negara Matahari terbit ini, cukup indah dan menawan apalagi dihiasi lautan yang membentang luas dibawah sana.Beberapa menit kemudian, pramugari Japan Airlines membagikan anduk hangat untuk kita, saya sempat agak bingung untuk apa ini??ckckck. Namun dengan cara Learning by Seeing saya tahu ohh ini buat mengusap muka kita. Kemudian setelah handuk anget tadi diambil kembali pramugari kita disajikan makan pagi (breakfast), saya meminta pasta untuk makan pagi saya dan saya diberikan pula Salad sebagai appetizer dan beberapa snack juga (beberapa buatan Indonesia), yakult, dan air mineral. Waktu itu saya masih belum doyan sayuran mentah yang bernama salad itu wkwkwkwk.

Daratan Negara Jepang sudah terlihat, “wow, kita sudah diatas Jepang” (apa yang saya katakan dalam hati) dan ketika itu pula Pilot menerangkan bahwa kita akan sampai di Tokyo sekitar pukul 7 pagi dan memberikan beberapa penerangan informasi lainnya serta meminta kita untuk memasang sabuk pengaman karena pesawat akan mendarat. Sepanjang menit sebelum mendarat, saya melihat wilayah sekitar Narita yang Nampak seperti pedesaan, ada ladang pertanian disitu, ada jalan raya yang luas nan teratur, dll. Akhirnya sekitar pukul 7.10 kita mendarat dengan sangat lembut di Bandara Internasional Narita, Tokyo. Menurut informasi dari Wikipedia, Bandara ini berjarak sekitar 50 km dari Ibukota Tokyo. Saat itu Nampak masih sangat pagi, kondisi diluar Bandara nampak masih sangat sepi dan lengang.

Salah satu papan informasi (Departure Information) Terminal 2 Narita Int’l Airport

Setelah kita keluar dari pesawat, hal yang harus dilakukan bagi penumpang transit adalah mencari papan informasi keberangkatan dan kedatangan Bandara Narita, dan kita menemukannya tidak jauh dari gate keluar pesawat dan ternyata kita baru tahu bahwa Japan Airlines mendarat di Terminal 2 Narita International Airport (NRT) dan pesawat berikutnya yang akan membawa kita ke Washington DC (IAD) United Airlines akan berangkat dari Terminal 1 sehingga kita harus menggunakan Bus yang disediakan Bandara untuk menuju ke Terminal 1. Bagi para penumpang yang akan melanjutkan penerbangan berikutnya (transit) di Terminal 1 itu juga harus melewati prosedur keamanan seperti menunjukan dokumen perjalanan, melepas ikat pinggang dan sepatu, dll berdasarkan prosedur keamanan internasional sebelum kita menuju Bus yang akan membawa kita ke Terminal yang dituju.

Berfoto bersama dengan penumpang lain di kawasan Duty Free Terminal 2 Bandara Narita

Di Bandara Narita, kita cukup dapat mengexplore lengkap Bandara ini khususnya Terminal 1 mulai dari pertokoan “duty free” mereka yang mirip Mall atau pusat perbelanjaan hingga berbagai fasilitas yang ada di Bandara tersebut karena Bunda memberikan kebebasan bagi kita untuk mengeksplore asalkan kita dapat kembali ke tempat yang sudah ditentukan sesuai jadwal dan apalagi pesawat United Airlines UA804 yang akan menuju Washington D.C. baru akan terbang sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Dengan kata lain kita mempunyai waktu 7 jam untuk narsis, belanja, cuci muka, makan siang, dll.

Salah satu sudut untuk relaksasi mata dan badan di Bandara Narita

Satu hal bodoh ketika mengeksplore Narita Airport, pada saat itu saya bersama dengan 3 teman saya ingin mencari makan siang di salah satu restoran di Narita Airport (walaupun sebelum makan siang sudah ditraktir minuman dan kentang goreng oleh Bunda). Setelah melihat-lihat menu dan kocek, kita berhenti disuatu restoran yang lumayan luas namun banyak menunya dengan kocek yang terjangkau. Teman-teman saya memilih menu yang jarang ditemukan di tanah air, namun begitu bodohnya saya, saya malah memilih menu Nasi Goreng ala Indonesia (di menu tertulis jelas “nasi goreng” bukan “fried rice”, dll), ckckckck. Padahal kan nasi goreng sering saya makan waktu di tanah air, hehe. Saya menghindari makan Kimchi ataupun jenis makanan asing lainnya karena takut akan menjadi sakit perut saat di pesawat menuju Washington DC yang akan memakan waktu hampir 16 jam karena menurut perbincangan saya dengan kasirnya bilang makanan ini lebih pedas, dsb. hehe. Nasi goreng lagi nasi goreng lagi ckckckck. Ya gak bodoh-bodoh amat sih, kan positively saya sangat cinta tanah air.

Bersambung……..Menuju Negeri Paman Sam Part II

About these ads
Comments
  1. wah mas erik ini sangat luar biasa….
    sharing ini akan terus memotivasi untuk bisa menyamai prestasi mas erik…
    ya sukur2 bisa lebih…hehe
    sukses terus mas erik,,,
    bahasanya ringan, dan tertata,,,,

    • Erik Febrian says:

      Mas Yomi, saya tersanjung dan ingin mengucapkan terima kasih sudah berkunjung ke blog saya ini :)
      Saya masih perlu belajar ni Oom buat menulis dan mengelola blog, hehe
      Iya harapan saya juga seperti itu semoga artikel ini bisa memotivasi baik bagi diri saya sendiri maupun untuk orang lain,
      Sukses selalu buat Mas Yomi, saya yakin Mas Yomi dalam waktu tidak terlalu lama lagi akan segera menuju Paman Sam untuk mengambil program master aminnnn
      sukses teruss Om!
      Sampai jumpa lagi

  2. irma says:

    assalamualaikum mas erik salam kenal,,,,
    saya irma mahasiswa iesp fe unsoed anktn 09
    membaca blog ini memotivasi saya dan tentunya menginspirasi saya yg pengen banget bisa belajar ke luar negeri,,hehehe

    sekedar ingin tahu tips dan trik untuk bisa dapetin beasiswa IELSP…..

    makasih…..

    wass

    • Erik Febrian says:

      Wangalaikumsalam, Irma.
      Salam kenal juga dari Saya ^^
      Alhamdulillah kalo artikel yang saya tulis dapat memotivasi Irma dan menginspirasi Irma,
      Wah kalo gitu kita sama donk Ma,
      saya juga mempunyai cita cita ingin belajar di Luar Negeri…alhamdulillah yang ini sudah terealisasi.
      Kalo gitu gak ada salah nya kita sering sharing bareng masalah ini hehehe
      Tips dan trik nya untuk dapetin beasiswa ini adalah Irma bekerja giat selama awal kuliah sampe dengan akhir kuliah seperti peningkatan nilai akademis yang bagus kemudian Irma banyak bergerak di organisasi baik di kampus maupun di organisasi kemasyarakatan (saya kira ini banyak mendukung nilai kita), selain itu Irma sering update tentang beasiswa ini misal sering maen ke lembaga yang mengeluarkan beasiswa ini yaitu http://www.iief.or.id disini Irma akan mendapatkan update nya sehingga Irma gak ketinggalan info, kemudian mengisi aplikasi seperti essai dengan menarik, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan….itu menurut saya.
      Banyak juga yang sudah dapat beasiswa ini seperti Mas Yohanes Purnomo (Akt’ 2005) pertama, saya kedua, Rizma dan Witro, dan ada juga yang baru dapat kemarinn.. ayo lanjutkan perjuangan kita Ma,
      Saya sangat terbuka jika Irma mau ngobrol lebih jauh tentang beasiswa yang pernah saya dapatkan ini.
      Irma bisa menghubungi saya ke email: febryan.erick@yahoo.com nanti saya kasih no telepon dan Pin BB sekalian hehe

  3. finnifinni says:

    wah bermanfaat sekali infomya, saya berencana ke tokyo naik JAL. stidaknya saya bisa kebayang tahap2 perjalanannya..:)

  4. mas pesawatnya bukan 767 200, 777 200 kali ……

  5. mas mau nanya,
    di tulisan mas,
    katanya Flashdisk diperiksa,
    apa datanya yang diperiksa???
    *jujur gak pernah naik pesawat.
    ehehehehehe.
    dan.
    kalo kita mau naik pesawat apa kaset DVD diperbolehkan??
    misalnya aku bawa kaset DVD hasil ngeburn sendiri.
    apa ntar data dalem DVDnya itu gak diperiksa??
    apa gak kena bea cukai nantinya???

    • Erik Febrian says:

      Dear Nadhirulmaghfiroh,
      menjawab pertanyaanmu yang pertama
      Flashdisk hanya dilakukan pemeriksaan sebagai bahan metal saja bukan untuk diperiksa datanya, namun dimungkinkan juga diperiksa isinya apabila ada hal-hal yang mencurigakan namun saya kira jauh sekali bisa seperti itu…
      Bawa DVD ke pesawat untuk diputer dimana?
      Kalo diputer di laptop sendiri gpp, tp sejauh yang saya tau gak ada playernya dipesawat
      Tidak terkena bea cukai.
      Karena saya sering bawa barang tdk terkena bea cukai karena cukai untuk barang klasifikasi tentu saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s